Tampilkan postingan dengan label sinjai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sinjai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Sainuddin dan Sahabatnya Yang Menteri Kelautan

Nama Sainuddin sangat akrab bagi warga di desa Tongke-Tongke, kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Selain lahir dan besar di kawasan pesisir pantai Tongke-Tongke, Sainuddin adalah tokoh inspiratif warga setempat melalui upayanya melestarikan hutan Mangrove. Pria kelahiran Tongke-Tongke, 7 Mei 1967 ini adalah aktivis dikelompok pelestarian sumber daya alam Aku Cinta Indonesia (ACI), yang sekretariatnya berada dikawasan hutan Mangrove Tongke-Tongke Sinjai.
Menteri Kelautan da Perikanan, Susi Pudjiastuti Saat Berkunjung di Sinjai

Sainuddin (baju batik) berjalan dibelakang ibu Menteri

Saat aktif dalam pelestarian hutan Mangrove serta budidaya kepiting Mangrove inilah, Sainuddin berkenalan dengan Susi Pudjiastuti, yang saat ini menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Saat itu Menteri Susi masih berprofesi sebagai pengusaha disektor perikanan. Awal perkenalan mereka terjadi sekitar tahun 2004 silam. Jalinan pertemanan ini berlanjut hingga tahun 2014 meski lebih banyak melalui sambungan telepon saja.

Kini dua sahabat yang telah lama saling “merindukan” ini kembali dipertemukan pada Selasa (16/12/2014). Tentu saja di desa Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai, kampung Sainuddin. Menteri Susi memenuhi janjinya menemui sahabatnya ini, seperti yang disampaikannya kepada Sainuddin tahun 2006 silam.

Namun pertemuan ini dalam nuansa berbeda. Susi Pudjiastuti datang bukan lagi dalam kapasitas sebagai pengusaha ikan. Dia kini adalah pejabat negara: Menteri Kelautan dan Perikanan. Menteri berambut pirang ini datang dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Berbeda dulu, hanya datang bertemu Sainuddin ditemani staf dan rekan bisnisnya yang lain. Meski demikian, Sainuddin tetap bangga bukan main. Dikunjungi sahabat sekaligus pejabat negara.

Bila tidak ada sosok Sainuddin, mungkin warga Sinjai tidak akan menyaksikan seorang pejabat negara sekelas Menteri berkunjung di daerah berjuluk “Bumi Panrita Kitta” ini. Mungkin juga melalui kedekatan Sainuddin dengan Menteri Susi, Sinjai mendapatkan perhatian yang lebih, terutama pada pembangunan dan pengembangan di sektor kelautan dan perikanan. Semoga.  



Selasa, 27 Mei 2014

Yang tersisa dari IT CAMP RTIK Sinjai (2)

* Menyusuri Tebing Curam Tassoso

Desa Gunung Perak. Adalah salah satu desa di kecamatan Sinjai Barat, kabupaten Sinjai yang memiliki potensi alam yang cukup beragam. Potensi tersebut diantaranya perkebunan, pertanian maupun wisata alam. Hawanya yang dingin membuat tanaman perkebunan seperti sayur mayur tumbuh subur di wilayah ini.

"Akan banyak bahan tulisan" pikirku, sesaat tiba disalah satu rumah penduduk yang dijadikan base camp sementara panitia pelaksana. Mungkin inilah juga menjadi alasan mengapa teman-teman panitia IT Camp RTIK Sinjai menempatkan lokasi pelaksanaan kegiatan ini di Tassoso desa Gunung Perak.

"Seluruh peserta dan panitia akan menginap di mess kebun induk perkebunan yang ada di bawah sana", kata salah satu panitia. Saya pun bersama Fyan dan ketua RTIK Sinjai, Lutfi Hidayat dan panitia lain yang datang terlambat langsung menuju lokasi yang dimaksud. Tentu saja dipandu salah seorang panitia.

Salah satu medan yang dilewati ke lokasi IT CAMP
Awalnya saya mengira lokasinya mudah dijangkau. Ternyata tidak. Harus melewati tebing yang curam dengan kondisi jalan yang becek sehabis diguyur hujan. Turun ke lokasi melewati tebing yang dikelilingi pepohonan mungkin agak mudah. Hanya butuh fisik yang kuat. Itu bila dilakukan siang hari.

Namun kebetulan kami menuruni tebing saat hari mulai gelap. Selain fisik, juga dibutuhkan konsentrasi tinggi agak tidak terperosok. Saya dan teman-teman lain terpaksa harus meraba-raba jalur yang kami lewati. Ini karena lebar jalan di jalur ini tidak sampai semeter. Beruntung, kami terbantu "senter android" sehingga jalur bisa terlihat lebih jelas.

Alhamdulillah.... kami akhirnya sampai di gedung kebun induk perkebunan setelah melewati medan yang curam dan anak sungai yang airnya lumayan deras malam itu. Di gedung kebun induk sudah menunggu puluhan relawan TIK dari 3 (tiga) SMA/SMK di Sinjai.

Sebelum mengambil selimut dan melawan dinginnya malam, saya dan panitia lainnya terlebih dahulu menyapa mereka dan memberikan arahan mengenai kegiatan IT CAMP yang akan dilaksanakan esok harinya.   
Brain storming dengan para peserta IT CAMP

Seluruh peserta IT CAMP di kebun induk perkebunan

Sabtu, 01 Maret 2014

Mengelola Tantangan Untuk Sinjai Sejahtera


- Catatan HUT Sinjai ke-450, Tgl 27 Februari 2014

Setelah pelantikan bupati dan wakil bupati Sinjai terpilih, H. Sabirin Yahya dan H. A. Fajar Yanwar, tgl 14 Agustus 2013 lalu, saya tiba-tiba semakin rajin nongkrong di kafe atau warung kopi yang ada di Sinjai. Tujuannya bukan sekadar menyeruput secangkir kopi, namun juga mendengarkan celoteh pengunjung lain atau berdiskusi dengan rekan dan mitra kerja yang kebetulan memiliki hobi yang sama, ngopi.

Banyak cerita dan ungkapan suka cita euforia kemenangan. Sudah pasti datang dari tim pendukung pasangan pemenang pemilukada. Bagi pendukung pasangan H. Sabirin Yahya dan H. A. Fajar Yanwar atau identik dengan tagline SBY-Fajar, kemenangan ini tentulah sangat berkesan mengingat pasangan ini berhasil mengungguli delapan pasangan kandidat lainnya. Lebih berkesan lagi bagi pribadi seorang Sabirin Yahya. Kemenangan direngkuh setelah gagal pada pemilukada sebelumnya.

Dari seliweran ungkapan kegembiraan yang muncul dari pendukung SBY-Fajar, tidak sedikit pula timbul nada kekecewaan dari pendukung dan tim sukses kandidat yang belum berhasil menjadi pemenang. Tapi itulah warung kopi. Selain menikmati kopi, kita juga harus siap-siap “menikmati” celoteh yang kadang berujung hujatan.

Selasa, 14 Januari 2014

Kapan Jalan-ku diperbaiki

Kapan jalan-ku diperbaiki !?. Itulah pertanyaan yang kerap dilontarkan beberapa teman dan kenalan yang kebetulan bermukim di kecamatan Sinjai Barat. Musibah tanah longsor dan penyempitan akses jalan bukan lagi sekadar ancaman di daerah ini. Anda mungkin bisa membuktikan kekhawatiran teman dan kenalan saya, dengan mencoba mengakses jalan poros kecamatan Sinjai Tengah dan Sinjai Barat.

Ketika memasuki desa Kompang dan desa Gantarang, kecamatan Sinjai Tengah hingga desa Bontolempangan, kecamatan Sinjai Barat, maka pemandangan "menakutkan" membentang di depan mata kita. Dibutuhkan semangat luar biasa sembari menguburkan ketakutan kita, agar ketika melewati jalur ini, jantung anda aman-aman saja. 

Bila anda dari arah kota Sinjai, maka di sisi kiri jalan ada rembesan air yang mengikis pelan-pelan seluruh badan jalan. Pengikisan inipun membuat badan jalan berubah menjadi jurang yang menakutkan. Akan halnya di sisi kanan jalan yang merupakan kawasan berbukit dipenuhi hutan pinus. Ketika intensitas hujan meningkat, lumpur bercampur bebatuan kerap meluncur ke bawah dan memenuhi sebagian bahkan seluruh badan jalan.
Foto : Ella Iwan (warga Sinjai Barat). Lokasi : Desa Gantarang

Masyarakat setempat berasumsi bahwa longsor dari arah bukit hutan pinus, bukan semata disebabkan curah hujan yang tinggi. Bisa jadi karena pohon pinus. Pohon pinus yang punya tipikal suka menghisap cadangan air di bawah tanah, dianggap bisa membuat kondisi tanah menjadi labil. Kondisi ini bisa diperparah bila di puncak bukit ada perambahan hutan.

Sejatinya, jalan yang menghubungkan kabupaten Sinjai dan Malino, kabupaten Gowa ini adalah domain provinsi Sulawesi Selatan. Namun perlu ada upaya-upaya dari pemerintah kabupaten Sinjai dan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan, mencari solusi bersama dari permasalahan ini. Tentu kita ingin persoalan menahun ini cepat selesai. Akses jalan yang buruk tentu akan berimbas pada kondisi perekonomian di daerah kita. (*)