Jumat, 24 April 2015

Pentingnya Berkata dan Berbuat Jujur

Oleh: Zainal Abidin Ridwan

Di sebuah kampung bernama Aruhu, Sinjai, hiduplah seorang Ibu bersama dua orang anak laki-lakinya. Si Ibu membesarkan sendiri kedua anaknya setelah ditinggal mati sang suami. Dia tidak pernah mengeluh sedikitpun, meski saban hari melewatkan sebagian besar waktunya menjaga padi di sawah, dan mengayun kedua anaknya di lego-lego atau teras rumah panggung miliknya. Lagu yabelale dipilihnya untuk meninabobokkan kedua putranya.

“Yabelale,,,
atinrono ana', utojakko
wakke longatokko
yabe lale anakku,,

tappodo maloppoko malampe sunge'mu
muruntu decengnge
musappa dallemu
yabelale anakku, muarekka deceng

ikomitu ana' uonro maddenuang
bara' mupaitangnga
cenning lunra'na lino
yabelale anakku”.

Yabelale menjadi pengantar tidur kedua putranya, hingga dia menyaksikan keduanya telah tumbuh menjadi anak yang perkasa. Meski bahagia melihat pertumbuhan keduanya, Si ibu kerap diliputi kegelisahan. Ini karena kedua anaknya : La Keteng dan La Upe' memiliki sifat serta tabiat yang berbeda.

La Keteng, orangnya pemalas, mau menang sendiri, dan suka berbohong. Sementara La Upe', penurut, rajin dan suka menolong. Hanya La Upe' yang sering membantu Ibunya menanam padi di sawah, serta menjaganya dari dongi'-dongi' saat padinya mulai menguning.

“La Keteng, bantulah saudaramu di sawah. Kasian dia sendirian disana menghalau dongi'-dongi'” kata si Ibu kepada La Keteng.
“Malas, Indo'!” jawab La Keteng, lalu mengambil bantal dan memilih tidur di teras rumah.
Setiap kali diminta ke sawah untuk membantu saudaranya, jawaban La Keteng hanya malas, capek, atau mengantuk. Itulah yang membuat hati sang ibu gelisah. Kalau sudah begitu, terkadang La Upe' hanya digantikan ibunya menjaga padi-padinya dari incaran dongi'-dongi'.

“Istirahatlah anakku. Pulanglah ke rumah, kau sudah kelihatan capek. Biar ibu yang menggantikanmu disini menghalau dongi'-dongi'”. Kata sang Ibu saat menemui anaknya, La Upe' di rumah-rumah sawah
“Indo' khan lagi sakit. Kenapa bukan La Keteng saja yang Indo' suruh menggantikan saya!?”
“yah.. itulah saudaramu. Setiap kali saya suruh, jawabannya selalu tidak bisa atau malas. Dia sekarang di rumah dan hanya tidur-tiduran di teras”.
“kalau begitu, biarlah saya temani Indo' disini. Saya juga khan bisa tidur dan beristirahat disamping Indo'” pinta La Upe' kepada ibunya.

Jumat, 10 April 2015

TEKNOLOGI PINTAR ITU BERNAMA HONDA

Tahun 1995. Saat itu, saya masih duduk di bangku kelas dua sekolah Menengah Atas (SMA). Tepatnya di SMA Negeri 1 Sinjai Utara. Saat itu masih bisa dihitung jari yang menggunakan kendaraan roda dua alias motor ke sekolah. Entah itu adik kelas maupun kakak kelas. Saya merasa berbangga karena dari yang sedikit itu, saya salah satunya yang berkesempatan menggunakan motor ke sekolah.

Honda Astra Grand Impressa. Demikian nama "tunggangan" saya. Awalnya Ayah saya membeli motor itu karena tertarik menyaksikan iklan Honda Astrea Grand Impressa di layar Televisi. Iklan dengan tagline "ampe ngacir" yang diperankan Mandra, bintang sinetron Si Doel Anak Betawi ini ternyata sukses memikat perhatian Ayah saya. Saat itu saya sampai berpikir bahwa Ayah saya hanya menjadi korban iklan. Pada banyak kasus, iklan produk hanya unggul di televisi, namun saat produknya digunakan hasilnya justru berbeda dan mengecewakan konsumen. Saya pun berpikir seperti itu ketika Ayah saya memutuskan membeli Honda Impressa.

"Kamu boleh menggunakan motor ini ke sekolah". Begitu ucap Ayah saya ketika memarkir motor Honda Astrea Grand Impressa yang baru dibelinya,sepekan setelah menyaksikan iklannya di layar televisi. Perasaan senang bercampur ragu ketika Ayah menawari saya mencoba akselerasi motor "ampe ngacir" ini. Senang karena bakalan menunggangi motor ke sekolah, namun sedikit ragu akan performanya. "akan kah sehebat kata Mandra di iklannya ?".

Sempurna. Begitu kesan pertama saya ketika menjajal akselerasi dan performa Grand Impressa besutan Honda Astra ini. Ternyata, Mandra benar adanya. Tapi lebih benar dan hebat lagi teknologi yang diusung dan dibenamkan oleh Honda pada motor Impressa-nya. Saat pertama kali mencoba motor ini, tarikannya begitu kuat. Beban mesinnya juga sangat ringan sehingga mendukung performanya saat menjajal jalan raya.

Yang lebih hebat lagi dan sangat membantu saya meminimalkan pengeluaran adalah penggunaan bahan bakarnya yang super irit. Kadang apabila mengisi motor “Mandra” saya dengan seliter premium, saya sudah bisa memakainya ke sekolah selama lima hari. Nah, ini juga menjadi kabar gembira bagi saya dan tentu bagi anda pecinta motor merk Honda. Kabarnya motor produk Honda di tahun 2015 ini akan lebih hemat bahan bakar, terutama pada produk motor matik-nya. Hal ini karena Honda mengusung teknologi eSP atau Enhanced Smart Power. Dengan eSP, motor lebih ramah lingkungan, hemat bahan bakar, serta menghasilkan performa yang lebih tinggi.

Kembali bernostalgia dengan Impressa. Terkait beban mesin yang ringan, saya sempat menanyakan kepada salah satu kawan yang juga mekanik motor. Menurutnya, salah satu kelebihan motor Honda terletak pada oli mesinnya. Oli bawaan Honda katanya sudah dirancang untuk memaksimalkan fungsi dan kerja mesin motor honda tanpa dibebani dengan berat mesin yang akan berpengaruh pada stabilitas motor.

Entah benar atau tidak penjelasan kawan saya itu, yang jelas setiap ganti oli dibengkel, selalu saya disodori oli merek federal. Kata penjualnya, oli itu cocoknya untuk motor Honda. Kebiasaan menggunakan oli berlabel federal berlanjut ketika ayah memutuskan mengganti Impressa-nya menjadi Honda Astrea Legenda. Meski beda nama (Impressa dan Legenda, Honda tetaplah Honda. Teknologi pintar yang diusungnya sudah terlanjur memuaskan konsumennya. Termasuk saya dan mungkin anda pembaca setia blog saya.

Eits.. hampir lupa. Selama delapan tahun menggeber Honda Astrea Impressa, terhitung hanya empat kali kami mengganti busi. Irit khan !?. Selain itu, kelebihan lain yang dimiliki produk motor keluaran Honda adalah kemudahan melakukan servis berkala. Hal ini ditunjang dengan keberadaan bengkel resmi Honda yang sudah lama berdiri di daerah saya.

Kamis, 22 Januari 2015

Pengembaraan Sembilan Bersaudara

Oleh : Zainal Abidin Ridwan

Disebuah puncak bukit, hiduplah Sembilan bersaudara. Delapan diantaranya adalah laki-laki dan seorang perempuan. Sejak kecil mereka sudah ditempa dan dibekali pendidikan agama oleh kedua orangtuanya. Namun, kesedihan mendalam dirasakan sembilan bersaudara ini saat beranjak dewasa. Mereka harus berpisah dengan kedua orang tuanya dengan cara tak lazim.

Ketika itu, sembilan bersaudara ini dikejutkan dengan suara berdesing dan rumahnya tiba-tiba dipenuhi cahaya terang benderang. Kedua orang tuanya tidak terlihat. Yang ada hanyalah dua berkas cahaya yang tiba-tiba mengeluarkan suara. “Kami sudah mendidikmu sejak kecil. Mudah-mudahan kalian menjadi manusia yang taat beribadah dan berguna bagi orang lain,” kata suara yang bersumber dari cahaya tersebut. “Namun, agar berguna bagi orang lain, kalian tidak boleh tinggal disini bersama-sama. Kalian harus berpisah,”.

Seketika, kedua cahaya itupun menghilang. Sembilan bersaudara ini yakin, kedua cahaya tadi adalah orang tua mereka. Sembilan bersaudara inipun dihadapkan pada pilihan yang sulit. Namun, mereka harus taat dan berbakti kepada kedua orang tua Perintah untuk berpisah pun terpaksa dilakukan.
Mereka membagi diri ke Sembilan penjuru mata angin. Cucuran air mata mengiringi perpisahan mereka. Pengembaraan untuk membaktikan diri kepada masyarakat wajib mereka lakukan, sesuai petunjuk kedua orang tua yang sudah mendidiknya sejak kecil.

Dalam pengembaraannya yang memakan waktu bertahun-tahun ini, mereka berhasil membuka lahan di daerah yang dilewatinya serta mengajarkan ilmunya kepada masyarakat. Anak pertama sukses membuka lahan pertanian di daerah yang kemudian diberi nama Batangase. Dia juga mengajarkan ilmu bercocok tanam kepada warga.

Anak kedua pun berhasil melakukan hal yang sama, dengan menjadikan lahan tidur di daerah selatan menjadi kebun nangka yang sangat subur. Anak kedua ini kemudian memberikan nama lahan tersebut dengan nama Ale'nangka. Anak ketiga lebih hebat lagi. Dia mampu merubah sebuah batu kerikil menjadi Biji Nangka, dan menebarkan biji tersebut ke lahan kering yang dilewati saat dia mengembara. Jadilah daerah ini menjadi daerah yang subur dan kaya dengan buah nangka.

Teluk Bone. Tampak dari puncak Pulau Kambuno, Kec. Pulau Sembilan, Kab. Sinjai
Selama mengembara, anak keempat dan kelima juga memanfaatkannya dengan membantu masyarakat yang kesulitan. Anak keempat berhasil menjadi ulama besar di sebuah daerah yang berada di wilayah Barat, dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat setempat. Sementara anak Kelima juga melakukan hal yang sama dalam pengembaraannya di wilayah Utara. Anak kelima ini mampu menyulap lahan yang dipenuhi balang atau lumpur pohon nipa, menjadi sebuah perkampungan dan mendirikan masjid diatasnya.

Di wilayah Tengah dan Timur, juga tersiar kabar daerah tersebut menjadi subur dan makmur. Anak keenam yang membuka lahan perkebunan di wilayah Tengah, berhasil diikuti warga setempat. Bahkan mereka menggantungkan hidupnya dari hasil perkebunan. Sementara anak Ketujuh yang mengembara ke wilayah Timur, berhasil membuat perahu untuk warga. Perahu inilah yang dipakai masyarakat setempat mencari ikan di sungai, guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Meski seorang perempuan, namun anak Kedelapan ternyata memiliki ilmu yang tidak kalah hebat dengan saudara-saudaranya. Bahkan dalam pengembaraannya disebuah bukit bernama Karampulue, anak kedelapan ini berhasil membuka lahan pertanian yang jumlahnya sangat banyak. Dia pun membagikan lahan pertanian ini kepada masyarakat untuk dikelola. Saat masyarakat masih butuh bimbingannya, anak kedelapan ini tiba-tiba menghilang dan hanya meninggalkan berkas cahaya. Kejadiannya sama ketika kedua orangtuanya juga menghilang.

Kemudian anak Kesembilan atau si bungsu, justru mengembara ke tempat yang lebih jauh dan harus melawan derasnya ombak. Meski hanya menggunakan sebatang tongkat kayu, anak kesembilan ini bisa sampai disebuah pulau bernama Burungloe.

Namun pulau ini ternyata tidak berpenghuni. Untuk mengusir rasa sepinya, anak Kesembilan ini pergi ke pinggir pantai dan memukulkan tongkatnya sebanyak sembilan kali. Pukulan tongkat sebanyak sembilan kali ini dilakukan, dengan harapan dia memiliki jodoh bertemu lagi dengan saudara-saudaranya yang lain.

Setelah memukulkan tongkatnya sebanyak sembilan kali, anak kesembilan inipun menghilang. Konon, pukulan tongkat inilah yang membentuk sumur-sumur kecil yang airnya tawar, dan dikenal warga pulau Burungloe di Sinjai sebagai sumur jodoh. (Sinjai, 11/5/2013)


Rabu, 07 Januari 2015

Setiap Pramuka Adalah Kantor Berita

Setiap anggota Pramuka adalah kantor berita. Tagline ini diusung Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka sebagai upaya menyukseskan revitalisasi gerakan pramuka. Revitalisasi itu sendiri adalah pemberdayaan Gerakan Pramuka yang sudah ada yang dilakukan secara sistematis, terencana serta berkelanjutan guna memperkokoh eksistensi organisasi dan lebih meningkatkan peran, fungsi serta pelaksanaan tugas pokok Gerakan Pramuka.

Berbagai upaya telah dilakukan Kwarnas hingga jajarannya ditingkat bawah guna merealisasikan semangat yang ada dalam tagline tersebut. Seperti misalnya pelatihan jurnalistik dan media sosial yang diadakan di Cibubur Jakarta pada akhir November 2014 lalu. Pada pelatihan tersebut seluruh peserta diminta melakukan 3 (tiga) hal dan wajib disosialisasikan kepada anggota Pramuka lainnya. Tiga hal tersebut adalah membumikan Pramuka, mempromosikan Indonesia, dan membela Indonesia.

Kwarcab Sinjai, Sulsel, memanfaatkan media sosial untuk bertukar informasi

Untuk membumikan Pramuka maka setiap anggota Pramuka dituntut menyebarluaskan berita atau informasi yang positif terkait kegiatan kepramukaan. Dengan begitu, masyarakat akan semakin paham dan tahu peran serta fungsi Gerakan Pramuka. Juga yang tidak kalah pentingnya menjadi tugas anggota Pramuka adalah mencitrakan hal-hal yang positif tentang negara kita serta turut aktif pada setiap kegiatan pembangunan.

Memang bukan tugas yang mudah. Namun sebagai anggota Pramuka yang telah digembleng sejak tingkat Siaga atau Penggalang, maka tantangan itu akan mudah dilewati. Hanya saja memang, untuk bisa melaluinya, anggota Pramuka mesti meningkatkan kapasitas diri. Terutama kapasitas yang relevan dengan perkembangan zaman seperti pemanfataan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Membumikan dan mengukuhkan eksistensi Gerakan Pramuka tidak akan maksimal manakala anggota Pramuka tidak menguasai TIK. Bagaimana bisa mempromosikan dan mencitrakan Pramuka melalui website dan media sosial misalnya apabila tidak tahu menggunakannya. Itu hanya salahsatu contoh. Olehnya itu, untuk menjadi kantor berita, menjadi tugas setiap anggota Pramuka melatih dan meningkatkan kualitas serta kapasitas dirinya.

Selasa, 06 Januari 2015

"Mengawal" Batu Mulia di Sinjai

Saat memberikan laporan panitia pada pembukaan pameran batu mulia,
Sinjai, 28 Desember 2014

Pembukaan pameran dihadiri Bupati Sinjai, H. Sabirin Yahya

Bongkahan batu disalah satu lapak peserta

Fosil jati (menurut pemiliknya). Asal daerah: kecamatan Sinjai Selatan

Selasa, 16 Desember 2014

Sainuddin dan Sahabatnya Yang Menteri Kelautan

Nama Sainuddin sangat akrab bagi warga di desa Tongke-Tongke, kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Selain lahir dan besar di kawasan pesisir pantai Tongke-Tongke, Sainuddin adalah tokoh inspiratif warga setempat melalui upayanya melestarikan hutan Mangrove. Pria kelahiran Tongke-Tongke, 7 Mei 1967 ini adalah aktivis dikelompok pelestarian sumber daya alam Aku Cinta Indonesia (ACI), yang sekretariatnya berada dikawasan hutan Mangrove Tongke-Tongke Sinjai.
Menteri Kelautan da Perikanan, Susi Pudjiastuti Saat Berkunjung di Sinjai

Sainuddin (baju batik) berjalan dibelakang ibu Menteri

Saat aktif dalam pelestarian hutan Mangrove serta budidaya kepiting Mangrove inilah, Sainuddin berkenalan dengan Susi Pudjiastuti, yang saat ini menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan RI. Saat itu Menteri Susi masih berprofesi sebagai pengusaha disektor perikanan. Awal perkenalan mereka terjadi sekitar tahun 2004 silam. Jalinan pertemanan ini berlanjut hingga tahun 2014 meski lebih banyak melalui sambungan telepon saja.

Kini dua sahabat yang telah lama saling “merindukan” ini kembali dipertemukan pada Selasa (16/12/2014). Tentu saja di desa Tongke-Tongke Kabupaten Sinjai, kampung Sainuddin. Menteri Susi memenuhi janjinya menemui sahabatnya ini, seperti yang disampaikannya kepada Sainuddin tahun 2006 silam.

Namun pertemuan ini dalam nuansa berbeda. Susi Pudjiastuti datang bukan lagi dalam kapasitas sebagai pengusaha ikan. Dia kini adalah pejabat negara: Menteri Kelautan dan Perikanan. Menteri berambut pirang ini datang dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Berbeda dulu, hanya datang bertemu Sainuddin ditemani staf dan rekan bisnisnya yang lain. Meski demikian, Sainuddin tetap bangga bukan main. Dikunjungi sahabat sekaligus pejabat negara.

Bila tidak ada sosok Sainuddin, mungkin warga Sinjai tidak akan menyaksikan seorang pejabat negara sekelas Menteri berkunjung di daerah berjuluk “Bumi Panrita Kitta” ini. Mungkin juga melalui kedekatan Sainuddin dengan Menteri Susi, Sinjai mendapatkan perhatian yang lebih, terutama pada pembangunan dan pengembangan di sektor kelautan dan perikanan. Semoga.  



Kamis, 13 November 2014

Musyawarah Untuk Mufakat


Dalam Al-Qur'an Surat Ali Imran Ayat 159 disebutkan, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

Pada ayat ini terdapat satu kata yakni bermusyawarahlah. Hal ini menguatkan fakta bahwa Allah SWT memang mengharuskan umat manusia mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan suatu perkara.

*********
Tentu kita tidak ingin kembali ke masa kelam saat pemerintahan Orde Baru, dimana warga dibatasi dan diawasi ketika berpendapat maupun berekspresi. Semua pendapat yang nuansanya menyoroti kinerja pemerintahan orde baru, maka harus siap-siap menghuni “hotel prodeo”. Begitu pula media massa, harus berhadapan dengan kenyataan: medianya dibredel alias dilarang terbit. Sementara itu, musyawarah untuk mencapai mufakat hanya jargon semata di masa keemasan Orde Baru.

Nah, diera yang katanya sudah reformasi ini, regulasi yang ada membuka kran kebebasan berpendapat dan berekspresi. Setiap warga negara bebas berpendapat dan mengkritisi setiap persoalan yang dianggap tidak berpihak kepada diri pribadi maupun masyarakat. Media massa juga tumbuh dan berkembang bak cendawan di musim hujan.

Kendati demikian, ada tradisi dan semangat yang tetap hilang di masyarakat kita: Musyawarah mufakat. Saat ini kita semakin sulit menemukan kebiasaan musyawarah untuk mencapai mufakat. Padahal ciri dari era reformasi itu sendiri adalah kebebasan mengeluarkan pendapat, yang salah satunya dilakukan melalui wadah bernama musyawarah mufakat.

Lihat saja di media cetak dan televisi pasca pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang dimenangkan Jokowi-Jusuf Kalla. Nyaris kita tidak lagi melihat para wakil-wakil rakyat di parlemen melakukan musyawarah ketika ada persoalan. Mereka bahkan terlibat adu argumen dengan diksi yang tidak sepantasnya dilontarkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang katanya terhormat.

Mekanisme voting selalu dijadikan alternatif terakhir untuk memutuskan suatu perkara, padahal jalur musyawarah mufakat tidak pernah pernah dibuat serius. Skenario "seolah-olah buntu", membuat mekanisme voting pun dilakukan. Yang menang, tentulah yang dominan. Padahal bila musyawarah mufakat dikedepankan, maka bukan pemenang saja yang muncul, namun akan lahir pendapat yang lebih baik karena melalui kesepakatan bersama.

Musyawarah akan membuat sikap keras dan hati kasar menjadi lemah lembut. Musyawarah akan mengokohkan kebersamaan dan menjauhkan diri dari sifat yang semata-mata mementingkan urusan duniawi. Namun, apapun pemufakatan yang lahir dari musyawarah, tetaplah bertawakkal kepada Allah SWT.(*)
Anggota DPR-RI Saat Bersitegang (sumber foto: tribunnews.com)

Kamis, 09 Oktober 2014

Radio Komunitas FP-PLN, Media Informasi Pelanggan


Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai perusahaan perseroan yang menyediakan listrik bagi kepentingan umum, tidak bisa dinafikkan peranannya dalam konteks kekinian. Hal ini karena tenaga listrik bukan sekadar media yang menerangi tempat-tempat gelap hingga berubah menjadi terang benderang. Namun tenaga listrik memiliki peran meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Anak-anak sekolah yang dulunya hanya belajar dibawah redupnya cahaya lilin, kini bisa merasakan prestasi pendidikannya meningkat dengan belajar dibawah sorotan cahaya lampu yang bersumber dari tenaga listrik.

Tenaga listrik juga bukan sekadar energi yang dihadirkan pemerintah untuk memuaskan seluruh rakyat-nya, namun kehadiran tenaga listrik diupayakan menjadi pendorong kegiatan perekonomian di tengah-tengah masyarakat. Kalau dulu pengusaha kecil kita mengolah dan menghaluskan kopi dengan cara ditumbuk, maka saat ini produksi mereka lebih meningkat dan berkualitas setelah adanya mesin pengolah kopi yang proses kerjanya menggunakan tenaga listrik. Itu hanya contoh kecil betapa pentingnya tenaga listrik yang dikelola PLN dalam memajukan roda perekonomian.

Kita tentu berbangga memiliki PLN yang merupakan perusahaan kelas dunia yang terus bertumbuh kembang. Kebanggaan itu tentu harus diwujudkan dalam tindakan aplikatif yang mendukung kerja-kerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini. Tindakan aplikatif yang dimaksud antara lain memberikan saran dan kritik konstruktif, menyampaikan informasi terkait kondisi kelistrikan di daerah kita, hingga memenuhi kewajiban kita sebagai pelanggan: membayar tagihan listrik tepat waktu.

Untuk menyampaikan saran maupun kritik membangun begitupula pengaduan gangguan, saat ini terbilang sangat mudah. Sudah tersedia berbagai saluran media untuk itu, seperti memanfaatkan media sosial yang dimiliki PLN yakni twitter @pln_123 hingga mengakses website PLN dan mengisi form online yang disiapkan. Gampang khan ?. Cara lain yang bisa digunakan adalah menulis saran dan ide-ide cerdas kita untuk kemajuan PLN melalui blog pribadi kita.

Hanya saja pemanfaatan media sosial hingga mengakses situs resmi milik PLN tentu masih memiliki kekurangan, karena hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki jaringan internet di daerahnya/di rumahnya atau mempunyai gadget/smartphone yang bisa mengakses internet.

Radio Komunitas FP-PLN
Untuk efektifitas dan efisiensi menyampaikan dan menyerap informasi dari dan ke pelanggan PLN, maka pendirian radio komunitas Forum Pelanggan PLN atau FP-PLN patut dicoba. Radio komunitas adalah lembaga penyiaran atau stasiun radio yang dimiliki, dikelola, diperuntukkan dan didirikan oleh sebuah komunitas. Kenapa radio komunitas ? Ini karena hampir semua masyarakat kita memiliki perangkat radio di rumahnya masing-masing, dan ini tidak berlaku bagi gadget/smartphone yang lebih banyak hanya dimiliki oleh masyarakat di level ekonomi menengah keatas.

Namun sebelum mendirikan radio komunitas, maka harus dibentuk forum pelanggan PLN di daerah atau wilayah kerja PLN yang belum memiliki forum pelanggan. Wadah bernama forum pelanggan ini bisa merangkul elemen-elemen masyarakat dari unsur pemuda, ulama hingga tokoh-tokoh masyarakat. Nah, forum pelanggan inilah yang diberikan amanah untuk mengelola radio komunitas yang didirikan PLN.

Teknis mengelola radio komunitas FP-PLN juga tidak terlalu ribet seperti mengelola lembaga penyiaran swasta. Bila PLN dan masyarakat yang tergabung dalam forum pelanggan sepakat mendirikan radio komunitas, maka perlu dilakukan identifikasi karakteristik komunitas, kebutuhan komunitas serta keberadaan kelompok dalam komunitas untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan program siaran. Program-program siaran yang bisa diakomodir apabila radio FP-PLN berdiri antara lain, program “Pelanggan bertanya, PLN menjawab”, dimana format acaranya adalah dialog interaktif by phone antara pelanggan dengan narasumber dari PLN.

Karena radio komunitas dikelola FP-PLN, maka program siaran yang dipandu anggota komunitas selayaknya diakomodir, seperti siaran keluarga yang bisa dipandu ibu PKK atau Dharmawanita unit PLN. Siaran religi yang dipandu remaja masjid ataukah siaran remaja yang dipandu pengurus KNPI dan Karang Taruna.

Selain sebagai media komunikasi dan informasi, keberadaan radio komunitas forum pelanggan PLN dapat mengukuhkan kebersamaan, rasa saling memiliki, serta saling mendukung antara PLN dan pelanggan itu sendiri. Melalui radio komunitas FP-PLN, maka masyarakat terbantu dalam mengakses informasi terkait kondisi kelistrikan, maupun memberikan sumbangsih pemikiran dan kritik konstruktif demi kemajuan PLN.

Terbersit harapan, PLN mampu merealisasikan terbentuknya radio komunitas forum pelanggan yang menjadi media informasi bagi pelanggan PLN, terkhusus di daerah-daerah dan kantong-kantong warga yang terpencil dimana mereka hanya memiliki radio mini compo untuk mengakses informasi.(*)

Rabu, 01 Oktober 2014

Ayo, Cuci Tangan Pakai Sabun


Cuci tangan. Terdengar mudah sebenarnya. Namun untuk melakukannya perlu disertai pengetahuan dasar mengenai tata cara mencuci tangan sesuai indikator perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Mengajarkan anak-anak kita sejak dini mengenai pentingnya mencuci tangan sangat penting sebagai bekal bagi mereka.

Lakukan cuci tangan pakai sabun di air mengalir disaat-saat penting seperti: sebelum sarapan, makan siang dan sebelum makan malam. Juga saat keluar dari toilet. Melakukan kebiasaan tersebut dihadapan anak-anak kita, niscaya membuat mereka tertarik untuk mencontoh atau menerapkan.

Bila di lingkungan rumah tangga sudah tertanam kebiasaan seperti itu, maka di lingkungan sekolah pun mereka bisa lakukan. Bahkan menjadi contoh bagi teman-temannya yang lain.

Dokter Kecil di kab. Sinjai mempraktekkan Cuci Tangan Pakai Sabun

Jumat, 26 September 2014

Selamatkan Lumbung Demokrasi


Ketika sebagian besar anggota DPR kita yang (konon) terhormat itu menyatakan bahwa pemilihan kepala daerah (Pilkada) dilakukan secara tidak langsung atau melalui DPRD, maka mereka sama saja membakar lumbung yang berisi demokrasi di negara kita.

Lumbung demokrasi di Indonesia sebenarnya tidak rusak atau merusak seperti yang diasumsikan sebagian besar anggota DPR kita yang (konon) terhormat itu. Tidak perlu lumbung itu “dibakar” karena beberapa isinya masih bisa diselamatkan dan diperbaiki.

Bila dikatakan bahwa pilkada langsung menimbulkan biaya tinggi, maka cari solusinya agar biayanya bisa ditekan dan tidak memberatkan calon kepala daerah yang akan bertarung. Bila dikatakan pilkada langsung membebani anggaran negara, maka cari solusinya. Melalui E-Voting, misalnya. Bila dikatakan bahwa pilkada langsung akan melahirkan kepala daerah yang korup, maka cari solusinya. Partai politik tidak membebani calon kepala daerah dengan biaya pendaftaran yang memberatkan, misalnya.

Selalu ada solusi dari setiap permasalahan yang ada. Tidak mesti digeneralisasi kejadian atau dampak pilkada langsung yang sebenarnya hanya kasuistis. Menetapkan pelaksanaan pilkada melalui DPRD sama saja mengebiri hak rakyat dalam memilih pemimpinnya. Sebagian besar anggota DPR yang (konon) terhormat itu telah menunjukkan betapa mereka lebih mengedepankan syahwat politik, ketimbang memperbaiki kualitas demokrasi di negara kita.

“Kalau hama tikus merusak gabah/padi yang ada di lumbung, maka jangan bakar lumbungnya. Cari hama tikusnya dan musnahkan”. Pilkada melalui DPRD bukan solusi mengatasi biaya mahal pilkada, mencegah korupsi kepala daerah, atau solusi atas silang sengketa antar pendukung calon kepala daerah. Semua itu hanya-lah “hama” yang sebenarnya bisa ditekan atau dimusnahkan. Masih banyak elemen penting yang tersimpan dalam lumbung demokrasi itu yang harus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya, namun tentu saja dengan tetap mempertahankan: PILKADA LANGSUNG. 

Kamis, 18 September 2014

Pasar Politik dan Peran Media


Pada konstitusi liberal, masyarakat bebas diartikan sebagai individu yang memiliki kebebasan, menghargai hak azasi manusia, menjamin kepemilikian pribadi dan mengontrol kekuasaan negara. Lebih jauh lagi, masyarakat bebas memiliki akses yang bebas menuju berbagai pasar yang didasarkan pada prinsip kompetisi.

Bila disederhanakan, maka terdapat tiga tipe pasar utama: 1. Pasar Politik, 2. Pasar Sosial, dan 3. Pasar ekonomi (Rainer Adam, 2000). Kalau dalam pasar ekonomi ada transaksi barang dan jasa, dalam pasar sosial diperdagangkan barang non ekonomis seperti persahabatan, kesetiaan, kepercayaan dan sebagainya. Sementara dalam pasar politik hanya ada satu yang diperdagangkan yakni kekuasaan.

Masyarakat yang pasar politiknya didasarkan pada kompetisi yang jujur ada di alam bernama demokrasi. indikatornya adalah lapangan yang menjadi tempat akses masuk dan keluar ke pasar politik yang terbuka. Di lapangan itu setiap warga negara memiliki kebebasan untuk berpartisipasi dalam proses: memilih wakil mereka dan atau dipilih sebagai wakil rakyat.

Untuk memilih dan dipilih, warga negara membutuhkan fasilitator dan katalisator untuk mempercepat akses informasi yang mereka dan rakyat butuhkan. Salah satunya adalah media atau pers. Fungsi media di alam demokrasi saat ini sangatlah penting. Media melaporkan fakta, memberi informasi, mendidik publik, menyampaikan dan membentuk opini. Media juga menjadi alat untuk "mengontrol" pemerintah, polisi dan TNI, serta semua pelaku politik maupun partai politik. Saat ini media menjadi faktor sentral dalam membentuk opini publik. Sehingga wajar apabila politisi seperti kontestan pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden baru-baru ini, Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, menggelontorkan dana yang cukup besar hanya untuk meraih simpati masyarakat melalui iklan capres di media, (data alokasi iklan capres bisa dilihat di: www.iklancapres.org).

Sumber foto : screenshot, www.iklancapres.org
Hanya saja, perlu ada regulasi yang mengatur besaran alokasi anggaran yang dikucurkan calon Presiden dan wakil presiden maupun waktu penyiaran/penayangan iklan-iklan tersebut di media cetak maupun elektronik. Regulasi dibutuhkan dengan alasan, 1. Capres-Cawapres yang memiliki dana lebih tentu akan tampil mendominasi halaman dan slot acara di media cetak dan elektronik, 2. Capres-Cawapres yang memiliki dana lebih tentu iklannya memiliki frekuensi tayang lebih banyak ketimbang calon lain yang dananya terbatas, serta 3. Dominannya iklan Capres-Cawapres di media cetak maupun elektronik akan memangkas halaman atau program acara media yang seharusnya berisi tayangan berita dan informasi yang dibutuhkan masyarakat.

Selain alasan diatas, Iklan capres yang marak dan nyaris mengisi seluruh halaman di media cetak maupun program acara di televisi dan radio, memang harus dibatasi karena kontennya kurang memberikan nilai mendidik untuk masyarakat. Ada kecenderungan iklan-iklan tersebut terlalu menyederhanakan topik, personalisasi dan emosional. Kecenderungan lain adalah, bahasa yang digunakan bias, simbolis serta mengandung sedikit informasi. Padahal Informasi yang beragam dan mendidik sangat dibutuhkan masyarakat sebagai "penguasa" ranah publik.

Hans Juergen Beerfeltz dalam bukunya, kasta yang terabaikan, mengatakan bahwa apapun sistem politiknya dan sejauh mana peran medianya, yang harus dihindari adalah kebiasaan yang tidak bermanfaat dalam sebuah negara demokrasi, yaitu: rakyat mengeluh kinerja politisi, politisi mengeluh tentang rakyat, keduanya mencaci media dan media mencaci semuanya. Kita tentu berharap, di iklim demokratisasi saat ini semua berjalan saling mendukung, terarah dan mengikuti rambu-rambu yang ada, termasuk apabila nantinya regulasi yang mengatur alokasi anggaran iklan Capres berhasil diwujudkan.


Selasa, 16 September 2014

Karena Kami Kelompok Komunitas

"Komunitas bukan tempat berebut proyek pemerintah.
Komunitas bukan ajang klaim lahan kegiatan yang berujung pada saling sikut. Disini adalah tempat sharing pendapat dan informasi. Komunitas adalah tempat kita berbagi ilmu dan wawasan. Komunitas adalah wadah menyelesaikan persoalan negeri ini. Komunitas bisa eksis dan besar karena kita semua menyisihkan sebagian pendapatan dari gaji atau upah kerja yang kita peroleh. Sebagian untuk keluarga dan sebagian lagi untuk komunitas,"


Inilah petikan ungkapan saya ketika didaulat memberikan sambutan dalam kapasitas sebagai pembina Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI) Sinjai, pada pembukaan Indonesia Linux Conference (ILC) 2014 di gedung wisma Hawai Sinjai, 13 September 2014. Terkesan emosional dan penuh semangat memang. Namun itulah fakta bahwa ajang tahunan para aktivis dan penggiat Linux serta Open Source ini selalu dibumbui dengan semangat pantang menyerah para pelaksana kegiatannya. Betapa tidak, untuk melaksanakan even nasional sekelas ILC, panitia pelaksana mesti "berdarah-darah". Salah satunya adalah mencari sponsor untuk mendanai kegiatan.

Meski kegiatannya berbau teknologi informasi, namun ternyata tidak mudah mendanai kegiatan ILC. Sistem operasi Linux yang dikembangkan oleh komunitas dan bukan oleh vendor atau perusahaan-perusahaan besar, menjadi salah satu alasan sehingga kegiatan ILC kadang sulit mendapatkan donatur tetap. Sebagian besar sumber pendanaannya justru berasal dari sumbangan pribadi dari mereka para penggiat dan aktivis linux.

Dengan kondisi seperti itu, menyerahkah komunitas Linux ?. Tidak. Justru kondisi faktual seperti ini dijadikan semangat atau motivasi untuk berbuat lebih baik. Faktanya, ILC selalu terlaksana bahkan dari segi kualitas lebih berbobot dibanding even lain yang memiliki sumber dana tetap.

Saya mengambil contoh ILC di Sinjai. Kegiatan Pra ILC dan ILC berjalan sesuai rencana atau rundown yang disusun teman-teman panitia. Pra ILC yang bertempat di Aula Dinas Kominfobudpar serta Rumah Kopi Carita, diisi dengan materi firefox OS dan mozilla web maker. ILC dengan ragam materi dari narasumber yang berbobot juga berhasil dilaksanakan di gedung wisma Hawai serta aula dinas Kominfobudpar. Begitupula dengan KPLI meeting di kec. Pulau Sembilan. Sumber dana ? tentu saja diperoleh dengan cara-cara ala komunitas.

Sepekan sebelum acara puncak ILC 2014, teman-teman panitia masih berjuang mencari dana dengan cara menjual stiker dan baju di kantor-kantor pemerintah. Begitupula sumbangan dana dari panitia dan teman-teman aktivis linux juga digalang. Untuk publikasi acara, panitia sedikit berlega hati dan agak berkurang bebannya karena beberapa pihak menyumbang material publikasi seperti backdrop, baju panitia serta spanduk. 

Ini hanya sekelumit cerita dari komunitas yang bernama KPLI. Mungkin masih ada cerita menarik dari komunitas lainnya di negeri ini. Yang pasti, kita akan dihadapkan pada sejumlah tantangan saat bergiat di komunitas. Menantang tapi bermanfaat dikemudian hari. Ini karena Komunitas adalah tempat menambah pundi-pundi pertemanan, mencari pengalaman serta belajar ber-organisasi. Komunitas menjadi tempat  memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi orang lain. Dan..... melalui komunitas, kita ber-kontribusi membangun negeri ini. (*)




     

     

Sabtu, 06 September 2014

Melestarikan Local Wisdom Di Era Digital

Di dalam buku tulisan kluckhohn berjudul Universal Categories Of Culture ( 1953 ), membahas kerangka-kerangka kebudayaan yang kemudian dijadikan kerangka umum. Berdasarkan itu pulalah Koentjaraningrat memaparkan 7 ( tujuh ) unsur kebudayaan, diantaranya (1) sistem religi yang meliputi sistem kepercayaan, nilai dan pandangan hidup serta komunikasi keagamaan dan upacara keagamaan, (2) sistem kemasyarakatan yang meliputi kekerabatan dan sistem kenegaraan, (3) sistem pengetahuan yang meliputi pengetahuan tentang flora dan fauna, waktu, ruang, bilangan dan perilaku manusia. (4) Bahasa yaitu alat berbentuk komunikasi, baik lisan maupun tulisan, (5) kesenian meliputi seni pahat, relief, vokal, musik dan kesusastraan, (6) sistem ekonomi yang meliputi berburu, bercocok tanam, peternakan (7) sistem peralatan hidup yang meliputi tempat berlindung, perumahan, pakaian dan peralatan konsumsi.
Ketujuh unsur kebudayaan yang dikelompokkan Koentjaraningrat ini, kadang disederhanakan dengan istilah: kearifan lokal atau local wisdom. Kearifan lokal adalah nilai-nilai yang berlangsung turun temurun atau men-tradisi dikalangan masyarakat sebagai akibat dari adanya interaksi atau hubungan antara manusia dengan lingkungannya. 
 
Seluruh daerah di Indonesia mempunyai kebudayaan, dan kearifan lokal-nya masing-masing. Seperti contoh di Bali dengan tradisi Ngaben-nya, Bau Nyale atau berburu cacing laut di Lombok NTB, Rambu Solo di Tana Toraja serta tradisi pesta panen Mappogau Hanua di Karampuang, Desa Tompobulu, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai. Ketiga contoh tradisi budaya tersebut bisa terlaksana dan bertahan hingga saat ini karena adanya nilai kebersamaan dan interaksi yang terjalin sesama pendukung kebudayaan ini.

Di Karampuang, Sinjai misalnya. Kendati hanyalah sebuah dusun kecil dengan jumlah penduduk sekira 400 jiwa lebih, namun kekayaan seni dan budaya yang mereka miliki masih terjaga dari generasi ke generasi. Pranata atau sistem norma dan aturan-aturan khusus di dalam kampung tradisional Karampuang, juga sangat majemuk. Bukan hanya pranata tidak tertulis ( hukum adat ) yang dimiliki karampuang, namun pranata dalam bentuk tulisan juga bisa kita jumpai.

Dalam kawasan adat karampuang, unsur kebudayaan sistem religi dapat kita saksikan pada acara ritual adat yang tetap berlangsung intensif dengan memanfaatkan benda-benda megalit dan merupakan bukti kuat betapa penganut kepercayaan kepada leluhurnya begitu kuat. Bahkan sebagian besar tingkah laku, pola hidup dan pola pikirannya tetap berhubungan dengan leluhurnya. Ritual adat ini dapat kita saksikan saat pelaksanaan pesta adat Mappugau Hanua atau pesta kampung, yang dilaksanakan setiap bulan Oktober atau Nopember tahun berjalan. 

Ribuan orang menghadiri pesta adat Mappugau Hanua
Perangkat-perangkat adat Karampuang berhubungan dengan leluhurnya melalui ritual suci yang dilakukan pada setiap tradisi Mappogau Hanua digelar. Namun bagi anggota masyarakat yang bermukim diluar kawasan adat, perangkat adat Karampuang memberikan kesempatan kepada mereka untuk terlibat dan menyaksikan.

Dari Batu Gong ke Handphone
Pada zaman dahulu, perangkat adat atau tetua adat Karampuang memiliki cara tersendiri ketika Mappogau Hanua akan digelar. Untuk terhubung dengan warga pendukung adat Karampuang yang bermukim agak jauh dari kawasan adat, maka tetua adat yakni Sanro menggunakan media berupa batu besar. Batu ini dinamakan: Batu Gong. Dinamakan seperti itu karena memang bunyinya seperti gong ketika dipukul oleh Sanro. Batu gong tersebut masih dapat kita saksikan hingga saat ini.

Sekilas bila melihat Batu Gong, tidak ada bedanya dengan batu biasa. Namun kedalaman ilmu yang dimiliki oleh Sanro, membuat batu yang terlihat biasa tersebut bunyinya seperti gong dan bisa didengar oleh warga pendukung adat Karampuang meski bermukim agak jauh dari kawasan adat.
Perangkat Adat Karampuang Saat Memukul Batu Gong

Dengan Batu Gong, perangkat-perangkat adat Karampuang mampu ter-koneksi atau berhubungan dengan dunia luar atau ber-interaksi dengan masyarakat lain saat pesta adat Mappogau Hanua digelar. Dengan Batu Gong, masyarakat adat Karampuang memberi kesempatan masyarakat pendukung tradisi ini menyaksikan kearifan lokal yang mereka lakukan selama pesta adat Mappogau Hanua. 
 
Dalam konteks kekinian, tentu lahir pertanyaan: masih-kah tradisi dan kearifan lokal di kampung bernama Karampuang tetap terjaga ?. Jawabannya: Ya. Mappogau Hanua atau pesta kampung yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah di kampung Karampuang, adalah salah satu tradisi tahunan di Sulawesi Selatan yang tetap konsisten dilaksanakan oleh masyarakat adat Karampuang.

Sedikit-pun tidak terjadi pergeseran atau perubahan pada tahapan-tahapan pelaksanaan pesta adatnya. Begitu pula 2 (dua) rumah adat-nya yang masih berdiri kokoh hingga saat ini dan menjadi pusat aktivitas perangkat serta tetua adat-nya. Yang mengalami perubahan hanyalah pada media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan pelaksanaan Mappogau Hanua. 

Bila pada zaman dahulu Batu Gong menjadi satu-satunya alat bagi perangkat adat untuk mengundang dan memberi informasi terkait pelaksanaan pesta adat, maka di era digital saat ini, semua perangkat teknologi informasi dan komunikasi dijadikan media penyampai atau penyambung informasi. Misalnya saja penggunaan telepon seluler atau handphone. Pemanfaatannya tentu saja bukan oleh tetua adat (yang memang berpantang menggunakan teknologi). Namun oleh generasi-generasi muda-nya yang merupakan keturunan dari pendukung kebudayaan di Karampuang.

Generasi muda, keturunan dari pendukung adat Karampuang inilah yang memanfaatkan perangkat-perangkat teknologi untuk berhubungan satu sama lain. Bukan hanya handphone atau smartphone, media sosial pun mereka gunakan untuk sekadar menyampaikan pesan kepada kerabat mereka yang sudah ada di rantau bahwa pesta adat akan segera digelar. Wajar: karena mereka hidup di zaman digital.

Mengundang warga dengan batu gong, menyambut tamu dengan bebunyian gendang dan tumbukan lesung atau Mappadekko, mengolah hasil panen untuk dinikmati seluruh warga kampung, hingga ritual ke makam leluhur mereka di bukit Karampuang: adalah tahapan-tahapan dari tradisi ini yang tetap terjaga dan tidak tergerus oleh zaman digital. Mereka saling terhubung atau berinteraksi dengan cara yang sudah men-tradisi. Generasi mereka yang hidup di zaman digital juga menggunakan cara mereka sendiri: ala dunia digital. Semua saling mendukung demi terawat dan lestari-nya kearifan lokal di Karampuang.

Kearifan Lokal Di Trans Studio Makassar
Menjaga dan merawat kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan bukan hanya melalui tradisi atau ritual adatnya yang dilaksanakan secara konsisten. Namun bagaimana merawat kearifan lokal ini dengan cara-cara yang sesuai dengan kondisi saat ini. Seperti handphone untuk menyampaikan pesan dan informasi, maupun media sosial untuk mempromosikan kekhasan budaya daerah.

Cara lain adalah memanfaatkan ruang-ruang publik dan hiburan yang jamak kita temukan saat ini. Seperti di pusat-pusat perbelanjaan atau Mall serta wahana bermain indoor maupun outdoor yang banyak terdapat di kota-kota besar.
Saya ambil contoh di Trans Studio Mall dan Theme Park Makassar . Sebagai salah satu kawasan dan wahana permainan terbesar di Indonesia, tentu menjadi peluang yang harus dimanfaatkan guna mengangkat serta mempromosikan potensi dan kearifan lokal daerah. 

Trans Studio Mall dan Theme Park Makassar saat ini bukan lagi sekadar Mall dan wahana bermain. Namun telah menjelma menjadi lokasi atau tempat dimana orang saling terhubung satu sama lain meski harus melewati tantangan di wahana bernama The Lost City, saling berinteraksi satu sama lain di Magic Corner, lucu-lucu-an di Kids studio, atau menjelajah bersama di Studio Central.

Semua bisa kita dapatkan di Trans Studio Mall dan Theme Park Makassar. Wahana bermain, keceriaan bersama keluarga dan kerabat, hingga bertemu dan bernostalgia dengan teman lama. Namun untuk merawat dan menjaga kearifan lokal maupun tradisi lokal daerah, terbersit harapan besar adanya wahana bermain di Trans Studio Mall dan Theme Park Makassar bernama Bugis Room, Toraja Room, Mandar Room, Makassar Room, yang isinya adalah wahana permainan tradisional seperti Longga'-Longga' atau Enggrang, Maggalaceng, Maccangke dan Allogo. Begitupula permainan Ma'binta atau lompat karet, Mangngasing, serta Ma'baguli atau main kelereng. Bahkan di kawasan bermain tersebut bisa dimunculkan literatur berupa teks dan foto, yang isinya memuat tradisi-tradisi budaya yang ada di Sulawesi Selatan. Bermain, belajar dan melestarikan kearifan lokal Sulawesi Selatan di Trans Studio Mall dan Theme Park Makassar: semoga. (*) 

 

Kamis, 31 Juli 2014

Maaf Lahir Batin

Mewakili teman-teman Komunitas Blogger Sinjai (KBS), mengucapkan Selamat hari raya Idul Fitri 1435 H. Jika dalam tulisan atau postingan kami ada yang kurang berkenan, mohon kiranya dimaafkan. Mohon maaf lahir dan batin.

Komunitas Blogger Sinjai @tamanpurbakalabatupake gojeng

Selasa, 22 Juli 2014

Pada Akhirnya: rakyat-lah yang menang

Beberapa saat yang lalu, tepatnya tanggal 22 Juli 2014, pukul 22.00 Wita, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2014 dengan pemilik suara terbanyak yakni pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Saya lebih sreg menggunakan kalimat "pemilik suara terbanyak" dan menghindari kalimat "dengan pemenang". Hal ini karena esensi dari demokrasi itu sendiri sebenarnya adalah kemenangan rakyat, bukan kemenangan capres-cawapres.

Rakyat berarti segala-galanya bagi negara. Penguasa/Presiden hanyalah merupakan segelintir manusia yang diberi kepercayaan untuk mengurus administrasi, keamanan, dan pelaksanaan pemerintahan negara (Said, 1998). Konsep tersebut sejalan dengan konsep demokrasi yang dianut saat ini yang mana kedaulatan ada di tangan rakyat.

Dalam lontarak bugis pun demikian. Konsep-konsep tentang demokrasi juga tertuang, seperti dalam ungkapan "naia riasengnge maradeka, tellumi passaleng, iyanaritu: Makaseddinna, tenrilawai ri olona. Maduanna, tenriangkai’ riada-adanna. Matellunna, tenri atteanngi lao ma-niang, lao manorang, lao orai, lao alau, lao ri ase, lao ri awa. (Yang disebut merdeka (bebas) hanya tiga hal yang menentukannya: pertama, tidak dihalangi kehendaknya; kedua, tidak dilarang mengeluarkan pendapat; ketiga tidak dilarang ke Selatan, ke Utara, Ke Barat, ke Timur, ke atas dan ke bawah. Itulah hak-hak kebebasan.)

Sementara dalam sastra Bugis juga ada ungkapan sebagai berikut:Rusa taro arung, tenrusa taro ade, Rusa taro ade, tenrusa taro anang, Rusa taro anang, tenrusa taro tomaega. (Batal ketetapan raja, tidak batal ketetapan adat, Batal ketetapan adat, tidak batal ketetapan kaum Batal ketetapan kaum, tidak batal ketetapan orang banyak).Disini jelas tergambar bahwa kedudukan rakyat amat besar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Jadi, kepada Presiden dan wakil Presiden Indonesia terpilih untuk periode 2014-2019, saya menitip pesan dengan mengutip ungkapan dalam lontarak Bugis,"Aja’ mugaukengngi padammu tau ri gau’ tessitinajae. (Jangan engkau melakukan sesuatu yang tidak patut terhadap sesamamu). Memimpin-lah dengan jujur, amanah dan konsisten. Selamatkan Indonesia dari bencana kemiskinan, agar negara yang kita cintai ini menjadi Indonesia Hebat.

@zainalabidinku

Senin, 07 Juli 2014

Rindu Bermain Meriam Bambu

Saya teringat ketika masih duduk di bangku sekolah Dasar (SD). Saat bulan ramadhan tiba, saya bersama teman-teman sekolah paling rajin mencari bambu yang ukurannya agak besar. Di kampung saya, Sinjai, bambu besar ini dinamakan; Pettung. Sambut bulan suci ramadhan dengan mencari bambu ? yah.. itulah saya dan teman-teman sebaya. Namanya juga anak-anak. Bambu ini kami potong sehingga ukurannya tersisa 1,5 meter. Kemudian kami lubangi sisi dalamnya menggunakan linggis. Ini supaya semua lubangnya terhubung.

Bukan itu saja, saya dan teman-teman juga membuat lubang kecil dengan diameter lima sentimeter pada salah satu sisi bambu pettung itu. Anggaplah lubang kecil adalah lubang tangki untuk mengisi bahan bakar mobil/motor.

Kalau sudah dibuat sedemikian rupa, saya dan teman-teman membawa bambu tersebut ke pematang sawah yang jaraknya hanya sekira 70 meter dari rumah saya. Disana, bambu pettung tersebut kami buatkan dudukan. Dudukannya sederhana. Hanya 3 buah batu bata.

Meriam bambu. Yah.. namanya meriam bambu; benda yang kami rakit tadi. Cara kerjanya sederhana. Isi "tangki" bambu tadi dengan minyak tanah secukupnya. Kemudian sulutlah dengan api pada lubang kecil yang berfungsi sebagai tangki minyak tadi. Hasilnya, pasti terdengar letupan mirip meriam. Besar-kecilnya bunyi letupan tergantung dari ukuran bambu. Semakin besar diameter bambu, maka semakin besar pula letupannya. Begitu pula sebaliknya. 

Bermain Meriam Bambu (foto : int)
Setiap menjelang waktu berbuka puasa, kami selalu ke pematang sawah dan membunyikan meriam bambu ini. Suaranya terdengar seantero kampung. Itulah alasan saya dan teman-teman menyimpannya di pematang sawah: gema-nya lebih terasa. Kami selalu membunyikannya menjelang buka puasa dengan harapan agar warga kampung yang masih tertidur pulas, bisa bangun dan menyiapkan menu berbuka.

Namun paling sering kami membunyikan meriam bambu ini menjelang jadwal sahur. Warga dikampung juga senang kalau kami membunyikannya menjelang sahur. Katanya mereka sangat terbantu dan bisa bangun lebih awal setelah mendengar letupan meriam bambu.

Selain meriam bambu, alat yang digunakan untuk membangunkan warga di kampung saya juga mengandalkan panggilan sahur dari petugas masjid, tentu saja menggunakan speaker masjid ber-merk Toa.

Sekarang di kampung saya tak terdengar lagi suara letupan meriam bambu saat bulan Ramadhan tiba. Gema letupannya tak terdengar lagi menjelang buka puasa maupun sahur. Anak-anak di kampung saya kini lebih suka bermain petasan dan mercon.

Mainnya pun tak mengenal waktu. Kadang siang hari, namun paling sering malam hari. Tempat bermain petasan juga berbeda-beda. Kadang saya melihat anak tetangga saya memainkannya di halaman rumah. Namun saya melihat anak-anak lebih banyak memainkannya di halaman masjid ketika menjelang shalat Tarwih. Bahkan saat shalat pun suaranya masih terdengar dan menjadi-jadi. Kadang ada seloroh dan nada jengkel dari jamaah masjid seusai shalat. Mereka mengaku sangat terganggu suara petasan dan mercon. "Na ganggu skali ki' saat shalat," Kata salah satu jamaah masjid dengan logat Bugis-nya yang kental.

Saya membandingkan ketika zaman saya dulu bermain meriam bambu. Tujuannya hanya untuk membangunkan warga kampung bersantap atau makan sahur. Kalau bermain petasan yang mengeluarkan kembang api yang dilakukan anak tetangga saya, justru saya melihatnya tidak lebih dari kesenangan semata. Senang melihat kembang apinya dan gembira mendengar letupannya.

Saya rindu bermain meriam bambu. Saya rindu melihat anak-anak sekarang melakukan hal yang sama dengan yang kami lakukan dulu: membangunkan warga untuk sahur. Bukan mengagetkan jamaah masjid yang khusyu melaksanakan ibadah Shalat.

Saya rindu pematang sawah dimana berjejeran meriam bambu. Meletupkannya dan disambut gembira warga kampung. Meriam bambu kami saat itu sukses menjadi "mesin pengingat". Namun sekarang, terganti dengan mesin pengingat lain: alarm telepon selular.

@Biringere Sinjai, 7 Juli 2014 

  

Senin, 30 Juni 2014

Piala Dunia, Pilpres dan Puasa Ramadan

Kalau ditanya apa saja momen yang paling menyedot perhatian di pertengahan tahun 2014 ini, maka tentu saja saya menjawab hanya tiga yakni piala dunia sepakbola di Brasil, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden RI serta ibadah puasa Ramadhan. 

Piala dunia yang berlangsung di Brasil adalah turnamen sepakbola internasional yang ke-20 kali-nya digelar federasi sepakbola dunia (FIFA). Sebanyak 32 tim peserta yang berpartisipasi pada ajang besar ini, dan akan memainkan 64 pertandingan di 12 kota di Brasil. 

Selalu ada kejutan yang terjadi setiap piala dunia dihelat. Seperti yang terjadi di Brasil, dimana sejumlah tim-tim unggulan harus angkat koper lebih awal. Misalnya sang juara bertahan, Spanyol, yang gagal menembus babak 16 besar. Begitupula Inggris maupun Italia yang mengikuti jejak Spanyol. 

Susah beradaptasi dengan cuaca yang cukup panas di Brasil. Begitu pembelaan sebagian besar pemain Eropa yang sudah tersingkir lebih awal. Tersingkirnya tim-tim besar pada fase penyisihan grup, membalikkan prediksi semua pihak yang masih menjagokan negara-negara seperti Spanyol, Inggris, Italia maupun Kroasia yang bisa merebut titel juara dunia. 

Siapa sangka tim underdog seperti Kostarika maupun Aljazair, ternyata bisa mengalahkan tim-tim elit bertabur bintang dan bisa melaju ke babak 16 besar. Inilah beberapa kejutan di piala dunia tahun 2014 ini. 

Selanjutnya PILPRES...... 

Apa sih sesungguhnya yang menarik dari momen lima tahunan ini ?. Bila ditinjau dari aspek aturan atau regulasi, tidak jauh berubah. Calon Presiden dan Wakil-nya tetap diusung oleh partai politik. Untuk berpartisipasi, pun pasangan Capres dan Cawapres harus mengikuti ketentuan Undang-Undang maupun Peraturan KPU. 

Jadi, apanya yang menarik. Saya pribadi mengatakan (ini pendapat pribadi loh), yang menarik justru tim sukses-nya, relawan-nya, simpatisan-nya serta masyarakat dunia maya kita. Coba lihat, perhatikan dan simak secara seksama baik di media cetak maupun elektronik. Paska penetapan calon Presiden dan Wakil Presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, media ramai-ramai memberitakan geliat yang dilakukan para tim sukses, relawan, simpatisan hingga warga dunia maya atau pengguna internet. 

Ada berbagai cara yang dilakukan para tim sukses hingga simpatisan untuk memenangkan calon-nya, seperti aksi jempol darah lah, jalan sehat secara massal, bahkan adapula yang naik sepeda ontel ratusan kilometer hanya untuk bertemu calon Presiden dan Wakil Presiden idola-nya. Menarik kan ?. 

Bagaimana dengan warga dunia maya atau netizen atau mereka yang hidup di zaman digital. Nah... ini justru lebih menarik lagi. Para pengguna internet ini boleh dikata lebih hebat, lebih kreatif bahkan lebih tajam mengupas profil para Capres dan Cawapres yang akan mengikuti kontestasi. Dan.. tidak segan-segan saling "membunuh" di media sosial. 

Bahkan media televisi yang intens memberitakan kiat-kiat mereka memenangkan calon-nya ikut pula di "telanjangi" dan tidak luput dari cercaan maupun umpatan di facebook atau twitter. Bahasa tidak netral lah, berita bohong lah, serta informasi yang cenderung mendiskreditkan salah satu pasangan calon, menjadi bahasan menarik para warga dunia maya.

Keterlibatan sejumlah pimpinan media menjadi tim pemenangan pasangan Capres-Cawapres memang sukses menyedot perhatian kita semua, termasuk para pengguna media sosial. Menarik kan !?. Pasti menarik, meski keterlibatan mereka dalam kapasitas sebagai pimpinan partai politik (parpol). Saya tiba-tiba membayangkan bagaimana iklim di dapur redaksi media cetak maupun elektronik saat-saat sekarang ini. 

Yang menarik bin heboh juga adalah simpatisan para kandidat yang saling serang di dunia maya. Selain saling serang menyerang dalam bentuk teks, mereka pun sangat kreatif melakukannya dalam bentuk visual. Menarik kan ?. 

Saya saja pribadi penasaran dan makin rajin membuka facebook serta twitter saat musim kampanye masih berlangsung. Nyaris tidak ada jeda. Selalu saja ada komentar yang muncul, entah itu kebaikan para calon, prestasinya hingga keburukan maupun kejelakan mereka. Semua tersaji secara terbuka. Sayang kalau anda melewatkan momen menarik ini. 

Namun pesan saya, seperti sajian prasmanan di pesta pernikahan. Anda boleh memilih menu apa saja berikut lauk pauk kesukaan anda. Begitu pun informasi di media sosial. Semua sudah tersaji, sisa anda memilih mana yang enak di konsumsi, mana yang mencerahkan maupun mencerdaskan. 

Larut dalam perdebatan di media sosial pun tidak masalah, asal jangan menghujat dan mencaci Capres dan Cawapres kita. 

Welcome Ramadhan..... 

Ibadah puasa Ramadan hadir di waktu yang tepat. Hadir disaat euforia piala dunia dan kampanye Capres-Cawapres masih tersaji. Hadir ketika banyak ummat yang butuh pencerahan, dan butuh diingatkan akan banyak hal. Ramadan tentulah menjadi momen bagi saya, dan semua Ummat Muslim untuk menambah kualitas ibadah di bulan suci ini. Kita boleh larut dalam euforia sepakbola piala dunia, namun jangan lupa menjalankan ibadah wajib kita: Shalat dan Puasa. Anda pun boleh mendukung se-loyal-loyal-nya kepada salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden. Namun sedapat mungkin menghindari hujatan, cacian dan makian di media sosial. Kita tidak diajarkan menjadi mahluk pencaci dan penghujat. Makna Ramadan mengajarkan kita bersikap dan berperilaku sabar. Ramadan adalah bulan Syahr al-Shabr atau bulan kesabaran, karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berperilaku sabar, berjiwa besar, dan tahan ujian. Ramadhan adalah bulan yang sangat sarat makna yang kesemuanya bermuara kepada kemenangan, yaitu: kemenangan Muslim yang berpuasa dalam melawan hawa nafsu, egositas, keserakahan, dan ketidakjujuran. Selamat menyaksikan piala dunia dan semoga tim kesayangan anda menjadi juara. Mari, kita berikan semangat kepada putra-putra terbaik bangsa yang saat ini mengemban amanah sebagai calon Presiden dan wakil Presiden. Semoga mereka juga amanah saat terpilih nanti. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA, SEMOGA KITA SEMUA LULUS DENGAN NILAI TERBAIK DARI MADRASAH RAMADHAN INI. Aamiin.....